Oh Wanita (Mutiara)
Wanita adalah sebuah ungkapan lembut bagi para pria. Wanita sudah menjadi tanggungan pria untuk dilindungi mereka. Wanita adalah bagian dari kehidupan pria yang memang di ciptakan dari tulang rusuknya.
…arrijaalu qowwamuuna ‘alannisaa’…
Semenjak kecil, orang tua wanita selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga sang wanita kecil agar tumbuh dewasa dengan semua kehalusan tingkah laku yang lembut, martabat, dan keanggunannya. Penjagaan mereka lebih ketat dari anak laki-laki. Hal ini disebabkan oleh sesuatu yang harus sangat dijaga dan dihormati dari wanita. Entah apa, yang pasti wanita diperintahkan oleh Allah untuk selalu menjaga kehormatannya.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(An Nur 31).
Mutiara yang bagus adalah mutiara yang selalu terjaga, terawat, dan ditempatkan pada lokasi yang sangat terlindung dari bahaya pencuri, debu, atau orang-orang yang hanya ingin memegangnya tanpa membelinya. Wanita ibarat mutiara tersebut. Di toko-toko perhiasan, mutiara yang paling, bagus, mahal, dan eksklusif adalah mutiara yang letaknya di balik etalase yang megah. Bukan yang dipajang di pinggir-pinggir jalan yang mudah dipegang orang untuk dilihat-lihat. Begitulah kehidupan seorang muslimah yang sangat sulit dan rumit. Mereka harus ekstra hati-hati untuk melindungi dirinya dari bahaya luar. Bagi kaum feminis yang memperjuangkan jender sejak jaman renaissance dimana semua orang melakukan pemberontakan untuk suatu perubahan termasuk kaum wanita memang sekilas dirasa sangatlah sulit. Hal ini dikarenakan mereka kurang perhatian dengan sebuah rasa ikhlas untuk menjadi muslimah yang baik. Perjuangan yang wanita lakukan berbanding terbalik ketika mereka mendapatkan jaminan yang akan diberikan Allah. Mereka akan mendapatkan sesuatu yang sangat besar. Bahkan Allah hanya memberikan empat syarat yaitu dengan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, taat pada suami, atau dengan menjaga kehormatannya.
Sayangnya, pada era madness abad 21 ini. Kapitalisme yang dikuasai dunia non Islam, menjadikan akhlak wanita semakin terkikis. Setidaknya pengaruh tahun demi tahun, sedikit demi sedikit, mereka mengikis akhlak wanita bahkan muslimah khususnya. Lihat saja di televisi yang menuntun kita untuk menjadi wanita yang selalu matre, menjaga fashion yang harus up to date bahkan rela buka-bukaan demi mendapatkan perhatian para pria terutama yang mereka dambakan. Tank top maupun hot pants tak ubahnya kacang yang laris manis di jalanan. Mereka berseliweran tanpa memperhatikan adzab yang akan mereka peroleh nantinya. Tak jarang juga perhiasan-perhiasan mereka di perlihatkan tidaks ebagaimana mestinya karena sebagai simbol akan glamournya mereka (sekaligus pemborosan mereka).
Bagi yang berjilbab pun sudah rawan terjadi ‘penelanjangan’. Mereka sudah berjilbab namun masih ingin dikatakan gaul. –gaul seperti yang tak berjilbab- lebih dari itu nyaris tidak ada perbedaan antara yang berjilbab maupun tidak. Hanya beda selembar kain yang ada di (rambut) kepala mereka. Surat an Nur ayat 31 tadi sudah tak terdengar lagi di rutinitas sehari-hari kebanyakan para muslimah masa kini. Baju muslimah berjilbab sudah semakin mengecil dari tahun-tahun sebelumnya. Semakin ketat dan semakin sempit.
Akhlak muslimah seharusnya bisa menjadi contoh bagi umat muslim lainnya. Sikapnya yang terhormat bisa membuat semua orang segan kepadanya. Lihat saja contoh-contoh muslimah tangguh dan sejati yang pernah muncul di sejarah Islam. Sebut saja Masyitoh, Khadijah, Aisyah, Fatimah dan lainnya. Akhlak muslimah seperti yang dipunyai oleh nama di atas seharusnya ditiru dan dibiasakan oleh wanita-wanita yang ingin ‘mahal’ dihadapan semua orang. Bukan berarti mahal secara materiil, namun mahal secara inner beauty yang tak bisa diwujudkan oleh kosmetik mutakhir manapun. Bukan yang gaunnya atau kosmetik paling mahal dan anggun (atau bisa dibilang terbuka). Bukan yang jual mahal terhadap laki-laki (khusus kepada laki-laki yang pas-pasan mukanya, dompetnya, atau kendaraannya). Dan masih banyak lagi harga mahal semu yang di animokan masyarakat modern terhadap bayangan kaum hawa.
Allah sudah menurunkan pedoman bagi manusia. Pedoman yang harus diikuti semua muslim tanpa terkecuali. Kita harus mengacu pada pedoman tersebut di kehidupan sehari-hari. Untuk para muslimah, lebih baik senantiasa memperbaharui akhlaknya. Membuang perilaku buruk dan menghiasi diri dengan perbuatan mulia. Dalam hadist dicontohkan pertanyaan terhadap Rasullah : ”Ya Rasulullah, Fulanah dikenal rajin shalat, puasa dan sering bersedekah, tetapi ia suka menyakiti tetangganya dengan perkataannya.” Nabi SAW bersabda, ”Ia masuk neraka”. Kemudian orang tersebut bertanya lagi, “Ya Rasulullah, bahwa si Fulanah terkenal dengan sedikit shalat dan puasanya dan ia bersedekah sedikit dengan makanannya. Namun ia tidak suka menyakiti tetangganya. Nabi bersabda, “Ia masuk Syurga”.
Sekarang-mari kita lihat kenyataan sekarang, wanita-wanita sekarang sangat senang dengan budaya ’haha hihi’ yang seru dan menurut mereka (kebanyakan ibu-ibu, namun para gadis pun sekarang juga bisa terhanyut di dalamnya) bisa menghilangkan stress. Ngobrol dengan tetangga, teman, maupun komunitas lainnya memang diperbolehkan. Namun sering nampak selipan-selipan obrolan yang tidak seharusnya mereka perbincangkan. Mereka sering menamainya dengan gossip, obyeknya pun beragam, dari artis artis papan atas yang sudah mereka anggap tetangga sendiri, hingga tetangga mereka yang mendadak menjadi artis dalam perbincangan hangat mereka. Kata ibu-ibu sekitar rumah saya, ”ga asik mas kalo ga nggosip”. Dan kata teman-teman perempuan saya di kampus, ”kan kita perhatian”. Tentu saja itu sebuah ungkapan canda saja. Namuntak jarang hasil dari gossip mereka berupa gunjingan yang tak sedap bahkan bisa menyakiti hati pendengarnya. Lalu dimana sisi muslimah yang seharusnya tidak menyakiti sesama dan menjaga mulut mereka. Kembali lagi kita harus berpedoman kepada al Qur’an. Marilah kita sama-sama menjaga kepribadian kita bersama. Akhlak yang baik timbul dari kepribadian yang dibiasakan dari pedoman kita, al Qur’an dan Sunnah, sebagaimana akhlak Rasulullah. Sang wanita harus senantiasa menjaga kehormatannya, dan laki-laki juga harus selalu menghormati wanita. Situasi itu hanya bisa diwujudkan dari akhlak-akhlak yang dianjurkan dalam al Qur’an dan Sunnah. Marilah kita ajak, keluarga kita, teman kita, tetangga, maupun saudara kita untuk kembali pada perintah Nya untuk menjadi mutiara yang paling dijaga.(MIQ)




